BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Globalisasi
merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapapun dan di negara
manapun. Globalisasi merupakan Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses
dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa
lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi
pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Kehadiran globalisasi
tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia.
Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh
negatif.
Dewasa ini kita
tengah memasuki Era Globalisasi yang bercirikan suatu interdependensi, yaitu
suatu era saling ketergantungan yang ditandai dengan semakin canggihnya sarana
komunikasi dan interaksi. Perkembangan dan kemajuan pesat di bidang teknologi
dan informasi memberikan dampak yang amat besar terhadap proses komunikasi dan
interaksi tersebut. Era globalisasi sering pula dinyatakan sebagai era yang penuh
dengan tantangan dan peluang untuk saling bekerja sama. Dalam memasuki tatanan
dunia baru yang penuh perubahan dan dinamika tersebut, keadaan dewasa ini telah
membawa berbagai implikasi terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk
tuntutan dan perkembangan bentuk komunikasi dan interaksi sosial dalam suatu
proses kepemimpinan.
Setiap bangsa,
nampaknya dipersyaratkan untuk memiliki kualitas dan kondisi kepemimpinan yang
mampu menciptakan suatu kebersamaan dan kolektivitas yang lebih dinamik. Hal
ini dimaksudkan agar memiliki kemampuan bertahan dalam situasi yang semakin
sarat dengan bentuk persaingan, bahkan diharapkan mampu menciptakan daya saing
dan keunggulan yang tinggi. Begitu pula dalam konteks pergaulan dan hubungan
yang lebih luas, setiap negara-bangsa (nation state) dituntut mampu berperan
secara aktif dan positif baik dalam lingkup nasional, regional maupun
internasional.. Namun, harus disadari pula bahwa dalam setiap proses
kepemimpinan, kita akan selalu dihadapkan pada suatu mata rantai yang utuh
mulai dari yang paling atas sampai tingkat yang paling bawah dan ke samping.
Karena itu, pemahaman serta pengembangan dalam visi dan perspektif kepemimpinan
amat diperlukan dalam upaya mengembangkan suatu kondisi yang mengarah pada
strategi untuk membangun daya saing, khususnya dalam upaya meningkatkan
kualitas dan produktivitas bangsa yang ditandai oleh semangat kebersamaan dan keutuhan.
1.2 Perumusan
Masalah
Dari Latar Belakang yang telah
dikemukakan, penulis mengangkat masalah tentang “Bagaimana Peran Pemimpin Dalam
Menghadapi Dampak Negatif Globalisasi ?”
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
a.
Mengetahui Teori tentang Globalisasi
b.
Mengetahui Dampak Globalisasi
c.
Mengetahi Teori tentang Pemimpin dan
Kepemimpinan
d.
Mengetahui Peran Pemimpin dalam
menghadapi dampak negatif globalisasi
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Pengertian Globalisasi
Menurut asal katanya,
kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses
menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di
dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang
mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung
dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses
sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh
bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu
tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan
batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang
melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara
adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga
terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme
dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis
akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya
karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar
terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain
seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali
menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Globalisasi adalah
keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia
melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk
interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi adalah
suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling
berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang
melintasi batas negara
Dalam banyak hal,
globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi
sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering
menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara
atau batas-batas negara.
2.2 Ciri Globalisasi
Berikut ini beberapa
ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.
a.
Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut
barang antar negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia.
b.
Perubahan dalam Konstantin ruang dan
waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit,
dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya,
sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan
banyak hal dari budaya yang berbeda.
c.
Pasar dan produksi ekonomi di
negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari
pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan
multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
d.
Peningkatan interaksi kultural melalui
perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita
dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami
gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya,
misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
e.
Meningkatnya masalah bersama, misalnya
pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan
lain-lain.
Kennedy dan Cohen
menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah
kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa
kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam
sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera
dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta
kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan
globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.
2.3 Globalisasi Perekonomian
Globalisasi
perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana
negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin
terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi
perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap
arus modal, barang dan jasa.
Ketika globalisasi
ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan
antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat.
Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari
dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka
peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata
dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut:
a. Globalisasi
produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran
agar biaya produksi menajdi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah
buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai
ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini
menjadi lokasi manufaktur global.
b. Kehadiran
tenaga kerja asing merupakan gejala terjadinya globalisasi tenaga kerja.
c. Globalisasi
pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau
melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua
negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan
telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah
memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bersama
mitrausaha dari manca negara.
d. Globalisasi
tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari
seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari
tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang
biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement
akan semakin mudah dan bebas.
e. Globalisasi
jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan
informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain
melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju
telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang
sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi's, atau hamburger melanda pasar
dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota
ataupun di desa- menuju pada selera global.
f. Globalisasi
Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif
serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan
perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan adil.
Thompson mencatat bahwa
kaum globalis mengklaim saat ini telah terjadi sebuah intensifikasi secara
cepat dalam investasi dan perdagangan internasional. Misalnya, secara nyata
perekonomian nasional telah menjadi bagian dari perekonomian global yang
ditengarai dengan adanya kekuatan pasar dunia.
2.3.1 Dampak Positif
Globalisasi Perekonomian
a. Produksi global dapat ditingkatkan
Pandangan ini sesuai dengan teori 'Keuntungan
Komparatif' dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perdagangan
faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efesien, output dunia
bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan
perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat, yang selanjutnya dapat
meningkatkan pembelanjaan dan tabungan.
b. Meningkatkan
kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat
dari berbagai negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri. Hal ini
menyebabkan konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak. Selain itu,
konsumen juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih
rendah.
c. Meluaskan
pasar untuk produk dalam negeri
Perdagangan luar negeri yang lebih bebas
memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar
dalam negeri.
d. Dapat
memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan
terutama dinikmati oleh negara-negara berkembang karena masalah kekurangan
modal dan tenaga ahli serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan
dihadapi oleh negara-negara berkembang.
e. Menyediakan
dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
Pembangunan sektor industri dan berbagai sektor
lainnya bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing, tetapi terutamanya
melalui investasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta domestik. Perusahaan
domestik ini seringkali memerlukan modal dari bank atau pasar saham. dana dari
luar negeri terutama dari negara-negara maju yang memasuki pasar uang dan pasar
modal di dalam negeri dapat membantu menyediakan modal yang dibutuhkan tersebut.
2.3.2
Dampak Negatif Globalisasi Perekonomian
a. Menghambat pertumbuhan
sektor industri
Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan
sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini menyebabkan
negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tingi untuk
memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang (infant industry).
Dengan demikian, perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan
kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih
cepat. Selain itu, ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki
perusahaan multinasional semakin meningkat.
b. Memperburuk neraca pembayaran
Globalisasi cenderung menaikkan barang-barang impor.
Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak
berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk
lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto
pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit.
Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan
(pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya
ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.
c. Sektor keuangan semakin
tidak stabil
Salah satu efek penting dari globalisasi adalah
pengaliran investasi (modal) portofolio yang semakin besar. Investasi ini
terutama meliputi partisipasi dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar
saham sedang meningkat, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran
bertambah bak dan nilai uang akan bertambah baik. Sebaliknya, ketika
harga-harga saham di pasar saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke
luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi bertambah buruk dan nilai mata
uang domestik merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan
efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
d. Memperburuk
prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku
dalam suatu negara, maka dlam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi
tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi
lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan
semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau
malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan efek
buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara,
distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi
masyarakat semakin bertambah buruk.
e. Menghambat
pertumbuhan sektor industri
Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan
sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini menyebabkan
negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tingi untuk
memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang (infant industry).
Dengan demikian, perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan
kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih
cepat. Selain itu, ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki
perusahaan multinasional semakin meningkat.
f. Memperburuk
neraca pembayaran
Globalisasi cenderung menaikkan barang-barang impor.
Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak
berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk
lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto
pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit.
Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan
(pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya
ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran.
g. Sektor
keuangan semakin tidak stabil
Salah satu efek penting dari globalisasi adalah
pengaliran investasi (modal) portofolio yang semakin besar. Investasi ini
terutama meliputi partisipasi dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar
saham sedang meningkat, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran
bertambah bak dan nilai uang akan bertambah baik. Sebaliknya, ketika
harga-harga saham di pasar saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke
luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi bertambah buruk dan nilai mata
uang domestik merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan
efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
h. Memperburuk
prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku
dalam suatu negara, maka dlam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi
tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi
lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan
semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau
malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan efek
buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara,
distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi
masyarakat semakin bertambah buruk.
2.4 Globalisasi Kebudayaan
Globalisasi memengaruhi
hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya.
Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh
masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap
berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek
kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek
kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku
seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang
bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah
kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
Globalisasi sebagai
sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia
(sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak
lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari
perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian
W. Pye, 1966 ).
Namun, perkembangan
globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan
berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak
fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut
menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan
semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.
Berikut ini merupakan
dampak positif Globalisasi Kebudayaan :
a. Mudah
memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
b. Mudah
melakukan komunikasi
c. Cepat
dalam bepergian (mobilitas tinggi)
d. Menumbuhkan
sikap kosmopolitan dan toleran
e. Memacu
untuk meningkatkan kualitas diri
f. Mudah memenuhi kebutuhan
Sedangkan Dampak
Negatif yang diimbulkan dari adanya
Globalisasi Kebudayaan antara lain :
a. Informasi yang tidak tersaring
b. Perilaku konsumtif
c. Membuat
sikap menutup diri, berpikir sempit
d. Pemborosan
pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
e. Mudah
terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu
negara
2.5 Pengertian Kepemimpinan
Secara sederhana,
apabila berkumpul tiga orang atau lebih, salah satu dari ketiga orang tersebut
mempengaruhi kedua temannya untuk melakukan sesuatu aktivitas bersama, dan
mereka melakukannya. Pada pengertian yang sederhana orang tersebut telah
melakukan “kegiatan memimpin” karena ada unsur mempengaruhi, mengkoordinasi,
ada teman, kegiatan dan sasaran. Tetapi dalam merumuskan dan mendefinisikan
kepemimpinan bukan suatu hal yang mudah, banyak ahli dalam kepemimpinan
memberikan definisi berdasarkan sudut pandang mereka antara lain:
a.
Koontz & O’donnel, mendefinisikan
kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja
dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompoknya.
b.
Wexley & Yuki, kepemimpinan
mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan
tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.
c.
George R. Terry, kepemimpinan adalah
kegiatan mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan
bersama.
d.
Fiedler, kepemimpinan pada dasarnya
merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan
pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai
tujuan
e.
Locke et.al. [1991], mendefinisikan kepemimpinan
merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu
sasaran bersama Dari kelima definisi
ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan,
kemampuan mengkoordinasi, memotivasi,
kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
Dari beberapa definisi
diatas, ada beberapa unsur pokok yang mendasari sudut pandang dalam merumuskan
definisi kepemimpinan yaitu :
a. Kemampuan
mempengaruhi orang lain
b. Kemampuan
mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok
c. Adanya
unsur kerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam kepemimpinan
selain unsur pokok yang mendasari ada sifat-sifat dasar yang berkaitan dengan
kecakapan seorang pemimpin. Sifat-sifat dasar tersebut ada tiga yaitu:
a. Kecakapan
memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya
motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan.
b. Kemampuan
untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi.
c. Kemampuan
untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana
[iklim] yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan
motivasi-motivasi.
Kemudian dari definisi
Locke, yang dikemukakan di atas, dapat dikategorikan kepemimpinan menjadi tiga elemen dasar, yaitu:
a.
Kepemimpinan merupakan suatu konsep
relasi [relation consept], artinya kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan
orang lain, maka jika tiadak ada pengikut atau bawahan, tak ada pemimpin. Dalam
defines Locke, tersirat premis bahwa para pemimpin yang efektif harus
mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berelasi dengan para pengikut
mereka.
b.
Kepemimpinan merupakan suatu proses,
artinya proses kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas atau
posisi jabatan saja, karena dipandang tidak cukup memadai untuk membuat
seseorang menjadi pemimpin, artinya seorang pemimpin harus melakukan sesuatu. Maka menurut Burns
[1978], bahwa untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat mengembangkan
motivasi pengikut secara terus menerus dan mengubah perilaku mereka menjadi
responsive.
c.
Kepemimpinan berarti mempengaruhi
orang-orang lain untuk mengambil tindakan, artinya seorang pemimpin harus
berusaha mempengaruhi pengikutnya dengan berbagai cara, seperti menggunakan
otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model [menjadi teladan], penetapan
sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restrukrisasi organisasi, dan
mengkomunikasikan sebuah visi. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat
dipandang efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan
kepentingan pribadi mereka demi keberhasilan organisasi [Bass, 1995. Locke
et.al., 1991.
Menurut Tanthowi
kriteria kemampuan yang harus ada pada seorang pimpinan adalah sebagai berikut:
a.
Seorang pemimpin harus bisa melihat
organisasi secara keseluruhan
b.
Seorang pemimpin harus bisa mengambil
keputusan
c.
Seorang pemimpin harus bisa
melakasanakan pendelegasian
d.
Seorang pemimpin harus bisa memimpin
sekaligus mengabdi
Dari definisi-definisi
di atas, paling tidak dapat ditarik kesimpulan yang sama , yaitu masalah
kepemimpinan adalah masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara
pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama,
baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utama seorang
pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada
kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu
yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya
atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan
kontribusi yang positif dalam usaha mencapai tujuan.
2.6 Kepemimipnan Dalam Perubahan
Teori kepemimpinan
sangat bervariasi, dari teori yang berargumentasi tentang cirri-ciri yang harus
dimiliki pemimpin yang efektif sampai pemimpin yang berhasil.,ciri – ciri
perilaku kepemimpinan berikut sebagai karakteristik CBO yang berhasil adalah :
a. Visioner
b. Percaya
diri yang kuat dan mempercayai orang lain
c. Mengkomunikasikan
ekspektasi kinerja dan standar yang tinggi
d. Menjadi
teladan bagi visi, nilai-nilai dan standar perusahaan
e. Menunjukkan
pengorbanan diri, kemauan kuat, keberanian dan konsistensi
2.6.1
Kepemimpinan dan Daur Hidup Organisasi
Empat perbedaan gaya
kepemimpinan yang dibutuhkan pada masing – masing tahap kehidupan organisasi
menurut Clarke dan Pratt adalah :
a.
Champion untuk bertempur dan mempertahankan bisnis baru
b.
Tank commander untuk mengantarkan bisnis ke tahap pertumbuhan
berikutnya, membentuk tim solid dan mengarahkan bisnis hingga bisa menguasai
pangsa pasar yang bisa dieksploitasi
c.
Housekeeper untuk mempertahankan bisnis agar tetap efisien dan efektif
ketika perusahaan memasuki tahap kedewasaan
d.
Lemon squezzer untuk memperoleh sebanyak mungkin ketika perusahaan
dihadapkan pada bahaya penurunan
2.6.2
Kepemimpinan dan Sifat Perubahan.
Hanya sedikit yang bisa
kita temui dalam literature tentang gaya dan perilaku kepemimpinan mana yang
lebih tepat untuk masing – masing jenis perubahan, kecuali bahwa kepemimpinan
transformasional lebih cocok untuk perubahan frame – breaking atau
transformasional. Secara logika, gaya manajemen konsultatif lebih sesuai untuk
perubahan jenis converging dan incremental, yang lebih dipicu daya pendorong
perubahan lingkungan yang bisa diprediksi dan berkekuatan moderat. Menghambat
dan memfasilitasi Proses Perubahan.
Bagi manajemen apapun
yang sedang merencanakan perubahan, akan selalu muncul kekuatan – kekuatan yang
memfasilitasi perubahan dan sebaliknya yang menghambatnya. Walau kekuatan –
kekuatan ini penting bagi semua jenis perubahan, namun akan lebih krusial dalam
konteks perubahan frame-breaking dan transformasional.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Kepemimpinan Di Era Globalisasi
Kepemimpinan masa depan
dituntut memiliki keterampilan berpikir yang metodis dengan memanfaatkan otak
dan hati dalam mengaktualisasikan terobosan cara berpikir dalam mengikuti
pembaharuan. Oleh karena itu sebagai daya dorong untuk meningkatkan
keterampilan kepemimpinan haruslah memiliki wawasan dan imajinasi yang harus
ditumbuh kembangkan kedalam peta pikiran agar ia mampu melihat
persoalan-persoalan masa depan dan bagaimana kita memecahkannya dengan
melaksanakan pembaharuan. Pengetahuan yang diungkapkan oleh para futurist
seperti Alvin Toffler, John Naisbit, Frank Feather, Kenichi Ohmae, Ervin
Laszlo, Dimitri Mahayana, dll. dapat kita pergunakan sebagai refrensi untuk
memberi daya dorong dalam proses pemanfaatan otak dan hati untuk berpikir.
Ilmu (informasi) dan
pengetahuan (pengalaman) memberikan ruang gerak kepemimpinan dalam menggerakkan
otak dan hati dalam proses berpikir untuk memotivasi semangat baru kepemimpinan
dalam mengantisipasi perubahan-perubahan dengan memahami situasi permasalahan
dalam era globalisasi dan perubahan lingkungan seperti gelombang politik,
ekonomi dunia, timbulnya blok-blok ekonomi, globalisasi pemasaran, pencemaran
lingkungan, teknologi, standard kehidupan, modal intelektual, sumber daya yang
terbatas dan perubahan-perubahan faktor internal.
Dengan memiliki
kompetensi dalam manajemen berdasarkan informasi, mengelola dengan pandangan
internasional, mengelola teknologi, mengelola kelugasan organisasi, maka
kepemimpinan dalam pembaharuan dapat melangkah melaksanakan pembaharuan dengan
perencanaan perubahan yang berencana.
Era globalisasi saat
ini dapat mendatangkan manfaat dan mudarat.Untuk mendatangkan manfaat
diperlukan kesiapan institusi dari seluruh aspek kehidupan yaitu aspek sosial,
ekonomi, hukum, politik, keamanan, teknologi, administrasi, budaya dan
sebagainya.Kepemimpinan nasional di era global sangat dituntut untuk
profesional dan proaktif sehingga negara menjadi memiliki daya tahan yang kuat
terhadap terpaan gelombang globalisasi dengan ciri adanya perubahan mendadak
tanpa dapat diprediksi sebelumnya karena tak mempunyai sinyal yang jelas. Situasi
ketidak pastian ( Uncertainties ) akan memaksa para pemimpin negara atau satuan
wilayah untuk harus dapat dan mampu untuk melakukan penyesuaian – penyesuaian
kreatif ( Latitudes ). Fluktuasi harga komoditi dunia, harga BBM, kurs mata
uang adalah fenomena global yang bisa langsung berdampak positif maupun negatif
terhadap pembangunan, perekonomian, dan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam
suatu negara.Ada dua model kepemimpinan saat ini :
3.1
Model kepemimpinan situasional.
Kepemimpinan
situasional adalah perilaku seorang pemimpin berasarkan pada tiga hal: kekuatan
dalam diri pemimpin,kekuatan dalam diri orang-orag yang dipimpin, dan kekuatan
dalam situasi. Pertama, ketika tingkat hubungan kerja dan tingkat kematagan
staf dalammelaksanakan tugas tinggi, maka perilaku pemimpin bersifat
partisipatif. Dia menjadi seorang pemimpin yang demokratis. Kedua, ketika
hubungan kerja rendah tetapi tingkat kematangan staf dalam melaksanakan tugas
tinggi, maka perilakupemimpin akan bersifat delegatif. Dia berperilaku layaknya
pemimpin transformatif, yaitu mentransformasikan nilai, tugasdan wewenang yang
dia miliki kepada yang dipimpin setelah sebelumnya membangun trust dan rasa
saling percaya. Namun ketika rasa saling percaya itu rendah, seorang peimpin
harus banyak melakukan pengecekan, kontrol dan pengawasan. Ketiga, ketika
hubungan kerja tinggi tetapi tingkat kematangan staf dalam melaksanakan tugas
rendah, maka perilakupemimpin akan bersifat konsultatif, berada di depan dan
banyak memberikan contoh dan bisa juga berperan sebagai seorangkonsultan. Dia
mungkin akan menjadi pemimpin kharismatik. Keempat, ketika tingkat hubungan
kerja rendah dan tingkatkematagan staf dalam melaksanakan tugas juga rendah,
maka perilaku pemimpin bersifat instruktif. Kecenderungannya akan menerapkan
model kepemimpinan otoriter.
3.2 Model Kepemimpinan Spiritual.
Kepemimpinan spiritual
adalah model kepemimpinan yang lebih mengedepankan nilai-nilai ruhani atau
spiritualitas untuk mempengaruhi, mengilhami,mencerahkan dan memberdayakan
orang-orang yang dipimpin. Kata spirit dalam istilah kepemimpinan spiritual
berarti yang ruhani (yang abadi). Dalam kehidupan ini yang abadi hanyalah Allah
SWT. Karena itu kepemimpinan spiritual adalah model kepemimpinan yang meniru
atau mencontoh kepemimpinan Tuhan, terutama lewat sihat-sifat robbaninya. Dalam
perspektif Islam, dimensi spiritualitas senantiasa berkaitan secara langsung
dengan realitas Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa (tauhid). Spiritualitas bukan
sesuatu yang asing bagi manusia, karena merupakan inti (core) kemanusiaan itu
sendiri. Kalau model kepemimpinan lain perilakunya berdasarkan hal ihwal yang
kasat mata (seen) seperti reward dan punishman,maka kepemimpinan spiritual
lebih mendasarkan pada fenomena yang tidak kasat mata (unseen), yaitu keimanan
dan hati nurani. Perilaku manusia yang kasat mata ini sesungguhnya cerminan
dari hati nuraninya. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa kualitas manusia itu
tergantung pada kualitas hatinya, dan pepatah arab mengatakan bahwa yang lahir
(seen) itu merupakan cermin dari yang batin (unseen). Kepemimpinan spiritual
adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual
(keilahian).
Dalam perspektif
sejarah Islam, kepemimpinan spiritual barangkali dapat merujuk kepada pola
kepemimpinan yang diterapkan oleh Muhammad SAW. Dengan integritasnya yang luar
biasa dan mendapatkan gelar sebagai al-amîn (terpercaya), Muhammad SAW mampu
mengembangkan kepemimpinan yang paling ideal dan paling sukses dalam sejarah
peradaban umat manusia. Sifat-sifatnya yang utama yaitu siddîq (integrity),
amanah (trust), fathanah (working smart) dan tabligh (openly, human relation)
mampu mempengaruhi orang lain dengan cara mengilhami tanpa mengindoktrinasi,
menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa dan mengajak tanpa
memerintah.
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Globalisasi merupakan
suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapapun dan di negara manapun.
Globalisasi merupakan Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari
gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain
yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman
bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Kehadiran globalisasi tentunya
membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh
tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.
Kepemimpinan di era
Globalisasi dituntut memiliki
keterampilan berpikir yang metodis dengan memanfaatkan otak dan hati dalam
mengaktualisasikan terobosan cara berpikir dalam mengikuti pembaharuan. Oleh
karena itu sebagai daya dorong untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan
haruslah memiliki wawasan dan imajinasi yang harus ditumbuh kembangkan kedalam
peta pikiran agar ia mampu melihat persoalan-persoalan masa depan dan bagaimana
kita memecahkannya dengan melaksanakan pembaharuan.
4.2 Saran
Saran yang bisa penulis
sampaikan dalam makalah ini yakni : Pemimpin yang memiliki kegesitan, kecepatan
serta mampu beradaptasi dalam membawa jalannya organisasi memiliki peran yang
penting dalam menghadapi kondisi organisasi yang senantiasa mengalami
perubahan. Sebab, fleksibilitas organisasi pada dasarnya merupakan karya
orang-orang yang mampu bertindak proaktif, kreatif, inovatif dan non
konvensional. Pribadi-pribadi seperti inilah yang dibutuhkan sebagai pemimpin
organisasi saat ini. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner,
yaitu memiliki visi yang jelas ke arah mana organisasi akan di bawa.
DAFTAR
PUSTAKA
MM
UII Angkatan. Kepemimpinan Islam di Era Globalisasi. Http//: www.
Mmui.wordpress.com
http//:
www. belajarberbagi.com
http//:
www. wikipedia.com
http//:
www.krumpuls.com
Alia
Netra Putri. http//: putri.blogspot.com
Hallo kak arwan, makasih banget ya, ini membantu saya sangat, ttapi kalau boleh saran, background colornya bisa diganti warna cerah kak, soalnya bagi yang minus seperti saya cukup mengganggu utuk membaca isi artikrlnya,
BalasHapussalam hangat,
Arigatou Gozaimasu
BalasHapus