Surat Untuk Sahabatku, Para Calon
Guru. (Di tulis untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional)
oleh Abdur
Rohman pada 2 Mei 2012 pukul 23:39 ·
SEDIH! Adalah ungkapan yang melatarbelakangi surat
ini. Kesedihan yang pertama, pada saat ini pemikiran kita semakin terikat bahwa
belajar hanyalah ketika di bangku sekolah. Dan kita selalu gagal menarik
peristiwa yang kita alami sehari-sehari sebagai sebuah proses pembelajaran.
Hampir semua orang berpikiran belajar itu ya sekolah.
Orang dikatakan sedang belajar ya ketika bersekolah. Selain di lembaga sekolah, dikatakan tidak belajar. Berani jamin, sepandai apapun anda, hafal segala macam teori, hafal rumus matematika, berpengetahuan luas, pandainya bukan main, namun kepandaian anda tersebut anda dapatkan secara otodidiak, artinya tidak anda dapatkan melalui bangku sekolah, anda tidak akan disebut orang yang terpelajar. Karena di negeri ini yang disebut orang yang terpelajar adalah mereka yang belajar di lembaga pendidikan. Orang yang bergelar sarjana, meskipun sebenarnya dia bodoh, orang itu akan disebut orang yang terpelajar karena gelar tersebut diperoleh dari lembaga pendidikan.
Orang dikatakan sedang belajar ya ketika bersekolah. Selain di lembaga sekolah, dikatakan tidak belajar. Berani jamin, sepandai apapun anda, hafal segala macam teori, hafal rumus matematika, berpengetahuan luas, pandainya bukan main, namun kepandaian anda tersebut anda dapatkan secara otodidiak, artinya tidak anda dapatkan melalui bangku sekolah, anda tidak akan disebut orang yang terpelajar. Karena di negeri ini yang disebut orang yang terpelajar adalah mereka yang belajar di lembaga pendidikan. Orang yang bergelar sarjana, meskipun sebenarnya dia bodoh, orang itu akan disebut orang yang terpelajar karena gelar tersebut diperoleh dari lembaga pendidikan.
Doktrin pemerintah dengan wajib belajar sembilan tahunnya, semakin mengukuhkan bahwa belajar hanya ketika di bangku sekolah saja. SD enam tahun, SMP tiga tahun. Selebihnya kita tidak lagi dianjurkan belajar. Karena belajar ya hanya sembilan tahun tadi. Padahal sesungguhnya belajar itu seumur hidup. Dari buaian hingga liang lahat, seperti kata pepatah.
Benar apa yang dikatakan Sirsaeba Alafsana, bahwa pemikiran picik diatas, pada muaranya menjadikan bangsa kita menumpukkan dan menumpukan semua harapan, cita-cita, dan mimpi-mimpi tingginya pada sekolah. Muncullah kemudian paradigma pikir yang “sesat dan menyesatkan”. Secara sederhana, paradigma itu bisa menunjuk seperti kata orang: “Kalau anda ingin pintar, cerdas dan karena itu akan menjadi orang sukses, kaya, dihormati, berkedudukan tinggi, berpangkat, dan bermartabat maka sekolahlah yang rajin, tekun, dan setinggi-tingginya!”
Maksud saya, bukan berarti kita tidak usah sekolah, kita tidak usah mengikuti program wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah, tapi saya hendak mengingatkan bahwa belajar bukan hanya ketika kita sedang duduk di bangku sekolah saja. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar. Manusia selama hidupnya akan selalu mengalami proses belajar. Dimanapun dan kapan pun, sebenarnya kita sedang mengalami proses pembelajaran. Dan apapun yang kita lihat, kita dengar, kita raba, dan rasakan sesungguhnya merupakan ayat-ayat yang harus dan wajib untuk kita pelajari.
Kesedihan yang kedua, adalah ketika biaya pendidikan (baca: sekolah) pada saat ini semakin melambung tinggi saja. Antar sekolah satu dengan yang lain, kampus satu dengan yang lain, baik negeri maupun swasta berlomba-lomba menaikkan biaya pendidikan. Kata orang, itu adalah buah otonomi kampus. “Ah.. Ini sebenarnya hanyalah ladang bisnis!”. Gumamku dalam hati.
Mungkin, bagi kampus-kampus swasta itu merupakan hal yang wajar, karena mereka harus menanggung sendiri seluruh biaya yang dikeluarkan. Lha kalau negeri kok mahal? Itu yang cukup menyedihkan. Dan lebih menyedihkan lagi ketika akhir-akhir ini kita sering mendengar perkataan orang-orang bahwa untuk bisa masuk diperguruan tiunggi ternama, konon harus beli kursi dan wajib punya uang puluhan hingga ratusan juta. Entah benar, entah salah, yang pasti itu sungguh menyedihkan.
Pendidikan dengan biaya tinggi diatas mengakibatkan warga masyarakat yang ingin mengikuti pendidikan mengalami kesulitan yang sangat luar biasa terutama dari segi pembiayaan. Pendidikan nasional pun terbukti belum bisa dirasakan oleh seluruh kalangan warga masyarakat. Buktinya, banyak anak-anak belia (yang seharusnya duduk di bangku sekolah) justru sudah banting tulang turut membantu orang tua mencari biaya untuk melanjutkan hidup, bahkan ada yang sampai ngamen, ngemis, berjualan Koran di perempatan jalan, dan lain sebagainya. Menyedihkan memang.
Untuk yang bisa mengenyam bangku pendidikan pun, kesdihan-kesedihan juga selalu menghantui. Misalnya seperti yang saya alami selama kuliah hampir dua tahun ini (empat semester). Para pengajar di perguruan tinggi (baca: dosen) selalu menghantui saya dengan tugas-tugas yang beliau berikan. Bukan tugasnya yang menjadi hantu, namun tujuan dari tugas tersebut. Selama ini pemahaman akan tugas-tugas kuliah hanyalah transfer of knowledge dan tidak termasuk di dalamnya transfer of values, transfer of norm, bahkan internalization of all knowledge, all values, and all norm. Dan itulah yang menjadi hantu, bahwa tugas hanya bertujuan untuk transfer of knowledge!
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini pun, wajah dunia pendidikan negeri ini masih belum kondusif. Setidaknya disebabkan dua alasan. Pertama, pendidikan Indonesia sejak masa Orde baru merupakan alat “kekuasaan dan bersifat materealistik”. Hal ini ditunjukkan dengan kebijakan penyeragaman pakaian sekolah SD-SLTA dan sentralisasi kurikulum. Padahal sentralisasi misalnya, merupakan kerangka politik untuk menyeragamkan pola pikir, sikap dan cara bertindak siswa (Darmaningtyas, 1999). Selain itu, sentralisasi juga mencerabut kebhinekaan yang menjadi ciri khas rakyat Indonesia, yang berakibat pada tercerabutnya siswa dari praktek budaya dan kebutuhan real siswa di tempat tinggalnya (Elias, Kopong, 1995).
Lembaga pendidikan kini juga telah kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang sebenarnya. Sekolah telah menjadi agen kapitalisasi, agen hegemoni, agen dominasi, agen penyebaran virus globalisasi, atau bahkan agen penghancuran sebuah peradaban yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia apa pun kelasnya. Sekolah juga kehilangan visi dan misi kemanusiaannya. Sekolah hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan kognitif intelektual belaka, sama sekali terlepas dari kemampuan afeksi sosial, afeksi kelembutan, afeksi tepo sliro, afeksi menghargai orang lain, dan afeksi yang menjunjung harkat dan martabat manusia (Ainurrofq Darmawan, 2003).
Ah, sebenarnya masih banyak lagi kesedihan-kesidahan yang saya alami ketika melihat dunia pendidikan di negeri ini. Namun, buat apa juga saya terus bersedih dan hanya meratapi kesedihan tersebut? Lebih baik aku menuliskan tumpahan harapanku kepada sahabat-sahabatku: para calon guru, Ki Hajar Dewantara muda!
Apa harapan dari beberapa kesedihanku diatas? Harapanku sangat sederhana: “Semoga pendidikan bisa menghasilkan manusia yang bisa memanusiakan manusia, karena kita adalah manusia”. Semoga saja para sahabatku (para calon guru) kelak dapat menjadikan anak didiknya sebagai manusia yang benar-benar menjadi manusia secara utuh. Manusia yang berani mengatakan bahwa merah adalah merah, hijau adalah hijau, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Begitu!
Selamat memperingati hari pendidikan nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar