HALAMAN PEMBUKA

SELAMAT MEMBACA TULISAN SEDERHANA SAYA DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARANNYA

Jumat, 23 Desember 2011

Studi Masyarakat Indonesia


MENANAMKAN WAWASAN KEBANGSAAN MELALUI PENDIDIKAN

Description: E:\logo uns.jpeg


Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Studi Masyarakat Indonesia
Oleh :
Arwan Gunawan
K7410029


PROGAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan mekalah ini dengan baik. Selain itu ucapan terimakasih juga penilis sampaikan kepada keluarga dan teman-teman yang telah membantu pejulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Wawasan kebangsaan merupakan hal yang sangat penting dan harus senantiasa dimiliki oleh setiap warga negara. Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami. Namun ada getaran atau resonansi dan pikiran ketika rasa kebangsaan tersentuh. Rasa kebangsaan bisa timbul dan terpendam secara berbeda dari orang per orang dengan naluri kejuangannya masing-masing, tetapi bisa juga timbul dalam kelompok yang berpotensi dasyat luar biasa kekuatannya.
Rasa kebangsanaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat kebangsaan  atau semangat patriotisme.
Wawasan kebangsaan mengandung pula tuntutan suatu bangsa untuk mewujudkan jati diri, serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang lahir dan tumbuh sebagai penjelmaan kepribadiannya.
Makalah ini akan membahas lebih jauh tentang wawasan kebangsaan terutama tentang bagaimana meningkatkan wawasan kebangsaan tersebut melalui lembaga pendidikan.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak kalangan yang melihat perkembangan politik, sosial, ekonomi dan budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekuatiran itu menjadi semakin nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara, yakni memudarnya wawasan kebangsaan. Apa yang lebih menyedihkan lagi adalah bilamana kita kehilangan wawasan tentang makna hakekat bangsa dan kebangsaan yang akan mendorong terjadinya dis-orientasi dan perpecahan.
Pandangan di atas sungguh wajar dan tidak mengada-ada. Krisis yang dialami oleh Indonesia ini menjadi sangat multi dimensional yang saling mengait. Krisis ekonomi yang tidak kunjung henti berdampak pada krisis sosial dan politik, yang pada perkembangannya justru menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. Konflik horizontal dan vertikal yang terjadi dalam kehidupan sosial merupakan salah satu  akibat dari semua krisis yang terjadi, yang tentu akan melahirkan ancaman dis-integrasi bangsa. Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural seperti beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta kondisi geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik (latent sosial conflict) yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.
Di samping itu,  timbul pertanyaan mengapa akhir-akhir ini wawasan kebangsaan menjadi banyak dipersoalkan. Apabila kita coba mendalaminya, menangkap berbagai ungkapan masyarakat, terutama dari kalangan cendekiawan dan pemuka masyarakat, memang mungkin ada hal yang menjadi keprihatinan. Pertama, ada kesan seakan-akan semangat kebangsaan telah menjadi dangkal atau tererosi terutama di kalangan generasi muda–seringkali disebut bahwa sifat materialistik mengubah idealisme yang merupakan jiwa kebangsaan. Kedua, ada kekuatiran ancaman disintegrasi kebangsaan, dengan melihat gejala yang terjadi di berbagai negara, terutama yang amat mencekam adalah perpecahan di Yugoslavia, di bekas Uni Soviet, dan juga di negara-negara lainnya seperti di Afrika, dimana paham kebangsaan merosot menjadi paham kesukuan atau keagamaan. Ketiga, ada keprihatinan tentang adanya upaya untuk melarutkan pandangan hidup bangsa ke dalam pola pikir yang asing untuk bangsa ini.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah dipaparkan, maka penulis akan mencoba mengangkat masalah tentang “ Bagaimana meningkatkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan “.
C.     Tujuan Penulisan Makalah
1.      Meningkatkan wawasan kebangsaan generasi muda
2.      Memberikan pengetahuan kepada generasi muda tentang pentingnya wawasan kebangsaan
3.      Memberuikan referensi kepada lembaga pendidikan bahwa lembaga pendidikan sangat berperan dalam meningkatkan wawasan kebangsaaan generasi muda.















BAB II
PEMBAHASAN



A.    Hakekat Wawasan Kebangsaan
Rasa kebangsanaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat kebangsaan  atau semangat patriotisme.
Wawasan kebangsaan mengandung pula tuntutan suatu bangsa untuk mewujudkan jati diri, serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang lahir dan tumbuh sebagai penjelmaan kepribadiannya.
Rasa kebangsaan bukan monopoli suatu bangsa, tetapi ia merupakan perekat yang mempersatukan dan memberi dasar keberadaan (raison d’entre) bangsa-bangsa di dunia.  Dengan demikian rasa kebangsaan bukanlah sesuatu yang unik yang hanya ada dalam diri bangsa kita karena hal yang sama juga dialami bangsa-bangsa lain.
Bagaimana pun konsep kebangsaan itu dinamis adanya. Dalam kedinamisannya, antar-pandangan kebangsaan dari suatu bangsa dengan bangsa lainnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Dengan benturan budaya dan kemudian bermetamorfosa dalam campuran budaya dan sintesanya, maka derajat kebangsaan suatu bangsa menjadi dinamis dan tumbuh kuat dan kemudian terkristalisasi dalam paham kebangsaan.
Wawasan kebangsaan merupakan jiwa, cita-cita, atau falsafah hidup yang tidak lahir dengan sendirinya. Ia sesungguhnya merupakan hasil konstruksi dari realitas sosial dan politik (sociallyand politicallyconstructed).[1]Pidato Bung Karno atau perhatian Hatta mengenai wawasan kebangsaan adalah bagian penting dari konstruksi elit politik terhadap bangunan citra (image) bangsa Indonesia. Apa pun perbedaan pandangan elit tersebut, persepsi itu telah membentuk kerangka berpikir masyarakat tentang wawasan kebangsaan.
Mengadopsi pemikiran Talcott Parsons[2] mengenai teori sistem,  wawasan kebangsaan dapat dipandang sebagai suatu falsafah hidup yang berada pada tataran sub-sistem budaya  Dalam tataran ini wawasan kebangsaan dipandang sebagai ‘way of life’ atau merupakan kerangka/peta pengetahuan yang mendorong terwujudnya tingkah laku dan digunakan sebagai acuan bagi seseorang untuk menghadapi dan menginterpretasi lingkungannya. Jelaslah, bahwa wawasan kebangsaan tumbuh sesuai pengalaman yang dialami oleh seseorang, dan pengalaman merupakan akumulasi dari proses tataran sistem lainnya, yakni sub-sistem sosial, sub-sistem ekonomi, dan sub-sistem politik.
B.     Hakeket Pendidikan
Lembaga Pendidikan (baik formal, non formal atau informal) adalah tempat transfer ilmu pengetahuan dan budaya (peradaban). Melalui praktik pendidikan, peserta didik diajak untuk memahami bagaimana sejarah atau pengalaman budaya dapat ditransformasi dalam zaman kehidupan yang akan mereka alami serta mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan tuntutan yang ada di dalamnya. Dengan demikian, makna pengetahuan dan kebudayaan sering kali dipaksakan untuk dikombinasikan karena adanya pengaruh zaman terhadap pengetahuan jika ditransformasikan.
Dalam arti luas, pendidikan adalah berusaha membangun seseorang untuk lebih dewasa. Atau Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai hal hal tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya Sebaliknya menurut jean praget pendidikan berarti menghasilkan atau mencipta walaupun tidak banyak. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
Secara garis besar, Pendidikan mempunyai fungsi sosial dan individual. Fungsi sosialnya adalah untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan pengalaman kolektif masa lampau dan kini. Fungsi individualnya adalah untuk memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan (pengalaman baru). Proses pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Ia juga berlangsung secara informal lewat berbagai kontak dengan media komunikasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan sebagainya atau non formal seperti interaksi peserta didik dengan masyarakat sekitar.
C.     Peran Lembaga Pendidikan Secara Umum
Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa lembaga pendidikan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap corak dan karakter masyarakat. Belajar dari sejarah perkembanganya lembaga pendidikan yang ada di indonesia memiliki beragam corak dan tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang melingkupi, mulai dari zaman kerajaan dengan bentuknya yang sangat sederhana dan zaman penjajahan yang sebagian memiliki corak ala barat dan gereja, dan corak ketimuran ala pesantren sebagai penyeimbang, serta model dan corak kelembagaan yang berkembang saat ini tentunya tidak terlepas dari kebutuhan dan tujuan-tujuan tersebut.
Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mensahkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal tersebut juga merupakan pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak sejak tahun 1998.
Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang Sisdiknas yang baru tersebut antara lain adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta didik.
Sebagai sistem sosial, lembaga pendidikan harus memiliki fungsi dan peran dalam perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala lini. Dalam hal ini lembaga pendidikan memiliki dua karakter secara umum. Pertama, melaksanakan peranan fungsi dan harapan untuk mencapai tujuan dari sebuah sistem. Kedua mengenali individu yang berbeda-beda dalam peserta didik yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan. Kemudian sebagai agen perubahan lembaga pendidikan berfungsi sebagai alat:
1.      Pengembangan pribadi
2.      Pengembangan warga
3.      Pengembangan Budaya
4.      Pengembangan bangsa
D.    Peran Lembaga Pendidikan Dalam Upaya Menungkatkan Wawasan Kebangsaan Kepada Generasi Muda.
Seperti telah disinggung diatas bahwa peran lembaga pendidikan harus memiliki fungsi dan peran dalam perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala lini. Dalam hal ini lembaga pendidikan memiliki dua karakter secara umum.
Hal ini berarti bahwa lembaga pendidikan harus mampu untuk merubah masyarakat Indonesia terutama generasi muda untuk lebih baik terutama dalam masalah Wawasan kebangsaan.
Dalam kenyataannya lembaga pendidikan memang dapat berperan penting terhadap peningkatan wawsan kebangsaan kepada generasi muda. Hal ini dikarenakan berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan sehingga dapat meningkaykan wawasan kebangsaan warga negara khususnya generasi muda.
Upaya tersebut adalah denganMemasukan Mata Pelajaran Tentang Pancasila dan Mata Pelajaran yang lain yang berhubungan dengan wawasan kebangsaan ke dalam kurikulum sekolah.
Dengan masuknya mata pelajaran yang berhubungan dengan  wawasan kebangsaan kedalam kurikulum, maka hal ini dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap hal tersebut. Lebih baik lagi ketika mata pelajaran tersebut diberikan kepada siswa yang usianya massih didi seperti siswa SD. Hal ini akan lebih baik, karena apabila wawasan kebangsaan diberikan sejak dini, wawsan kebangsaan itu akan senantiasa melekat dan bahkan bisa mengakar dalam diri siswa tersebut. Sehinnga apabila hal ini terlaksana dengan baik, maka kemungkinan besar wawasan kebangsaaan genersi muda Indonesia akan meningkat yang akan memberikan efek terhadap meningkatnya nasionalisme yang tentunya akan membawa dampak yang sangat positif untuk memecahkan berbagai masalah dan kasus yang sedang melanda bangsa ini










BAB III
PENUTUP
A.     Simpulan
Wawasan kebangsaan merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan bangsa ini. Memudarnya wawsan kebangsaan bisa berakibat yang sangat buruk bagi keberlangsungan bangsa. Maka dari itu perlu ada upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan tersebut. Salah satu upaya yamh dapat dilakukan adalah memeksimalkan peran lembaga pendidikan yaitu dengan cara memasukkan mata pelajaran yang berhubungan dengan wawasan kebangsaan ke dalam kurikulum sekolah. Karena dengan melakukan hal ini, akan lebih meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap hal tersebut. Sehinnga apabila hal ini terlaksana dengan baik, maka kemungkinan besar wawasan kebangsaaan genersi muda Indonesia akan meningkat yang akan memberikan efek terhadap meningkatnya nasionalisme yang tentunya akan membawa dampak yang sangat positif untuk memecahkan berbagai masalah dan kasus yang sedang melanda bangsa ini.
B.     Saran
Dalam kesempatan ini penulis akan memberikan saran terhadap pihak yang terkait dengan masalah wawasan kebangsaan.
1.      Bagi Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan harus bisa menyediakan sarana pendidikan saperti buku-buku tentang wawasan kegbangsaan.
2.      Bagi Sekolah dan Guru harus senantiasa menyadari bahwa mendidik itu bukan semata-mata menjadikan siswa itu pandai, tetapi juga menjadikan siswa memiliki karakter dan kepribadian yang baik serta pemahaman yang baik terhadap Bangsa ini.
3.      Bagi Pemuda Indonesia, sudah seharusnya kita sadar bahwa kegerlangsungan  hidup bangsa Indonesia dimasa yang akan datang adalah tanggung jawab kita bersama. Selain itu, Pemuda juga harus bisa menunjukkan bahwa kitalah yang akan membangun bangsa ini untuk lebih baik. Satu pesan untuk pemuda Indonesia “ Kalian Merupakan Tulang Punggung Bangsa”.     



DAFTAR PUSTAKA


Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003)

Ahmadi Abu & Uhbiyati Nur.ilmu pendidikan.Rumka cipta. 2002 jakarta.cet.2


http//MasBied.com.

http// riautimes.com


[1]       Bennedict Anderson, Imagined Community : reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London: Verso, 1991.
[2]       Parsons, Talcott. Toward a General Theory of action. New York : Harper & Row, 1951.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar